Sariagri - Kiwi merupakan nama burung yang secara tidak resmi menjadi simbol negara Selandia Baru. Populasi burung yang terancam punah, perlahan-lahan mulai menunjukkan tren peningkatan.
Dilansir dari Independent, survei terbaru yang dilakukan kelompok konservasi Kiwi Coast mendeteksi peningkatan populasi burung itu sebesar 50 persen di Northland. Sejak 2016, Northland telah menjadi tempat tinggal burung yang tidak bisa terbang itu.
Survei itu merupakan kegiatan tahunan untuk mengetahui peningkatan populasi kiwi. Dari survei itu kiwi terdeteksi di 35 lokasi sejak ditemukan di tempat sama lima tahun lalu. Selain itu juga ada penambahan 93 lokasi yang sebelumnya tidak ditemukan.
Populasi kiwi di wilayah Whangarei Heads diperkirakan bisa mencapai 1000 ekor. Angka ini melonjak tajam jika dibandingkan tahun 2001 yang hanya 80 ekor.
Sebelumnya populasi kiwi terancam punah karena ancaman serangan anjing dan hama seperti tikus dan cerpelai. Ancaman itu membuat kiwi hanya dapat bertahan hidup dalam populasi kecil, terfragmentasi dan terisolasi.
Para ilmuwan telah memperingatkan kondisi terisolasi yang dapat menyebabkan perkawinan sedarah kiwi. Jika terjadi, ini dapat menyebabkan berkurangnya kesuburan pada keturunannya.
Penelitian juga menunjukkan upaya memindahkan kiwi dari satu lokasi ke lokasi lain dapat membahayakan kiwi. Bahkan sebelumnya survei menyebutkan hanya 10 persen anak kiwi dapat bertahan hingga enam bulan.
Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan, para ahli mengatakan kiwi berkembang biak dengan cepat dan beradaptasi untuk hidup berdampingan dengan manusia.
untuk perlindungan burung ini dibutuhkan partisipasi masyarakat dengan memastikan anjing tetap terkendali dan pemusnahan hama.
Koordinator survei Ngaire Sullivan mengaku terkejut 50 persen dari daerah yang sebelumnya terpencil sekarang memiliki kiwi.
"Itu sangat bagus. Saya tidak berpikir kami akan menemukan tingkat perubahan begitu cepat. Saya pikir itu akan butuh waktu lama," kata Sullivan kepada Stuff, kantor berita yang berbasis di Selandia Baru.
